Ummu Sulaim binti Milhan Totalitas dalam Mendidik Anak

Anas bin Malik bin Nadhr ra, salah seorang sahabat yang mulia. Usianya baru sepuluh tahun pada waktu Rasulullah Saw hijrah ke Madinah Munawwarah. Ibunya bernama Ummu Sulaim, seorang wanita yang namanya dicatat sejarah sebagai wanita yang paling mulia mahar pernikahannya dengan Abu Talhah, yaitu islamnya Abu Talhah setelah terjadi diskusi yang menarik antara keduanya.
Ketika itu Ummu Sulaim sudah masuk Islam sedangkan suaminya, Malik bin Nadhr, masih memegang teguh ajaran nenek moyangnya, menyembah berhala. Dengan semangat keislaman yang tinggi, ia pun menuntun Anas kecil untuk melafadhkan kalimat tauhid, persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Ia tidak ingin buah hati kesayangannya itu salah dalam memilih jalan hidupnya kelak. Sang anak pun dengan senang hati melafadhkan kalimat mengikuti ibunya.
“Jangan kau rusak anakku agar memusuhiku!!” kata suaminya yang ketika itu masih dalam kekufuran.
“Aku tidak merusaknya! Aku hanya mengajaknya untuk beriman kepada Rasulullah!” jawabnya tegas.
Sungguh, apa yang telah dilakukan oleh Ummu Sulaim itu adalah perihal yang besar, yang tidak akan dilakukan oleh mereka yang berjiwa kerdil.
Sepeninggal suaminya, Malik bin Nadhr, ia mendidik putranya dengan cinta, dan mengasuhnya dengan kasih sayang. Cinta dan kasih sayangnya yang tinggi kepada putranya itulah yang mendorong hatinya untuk berjanji, “Sungguh, aku tidak akan menyapih Anas sampai dia sendiri yang meninggalkan susuan dalam keadaan hidup! Dan sungguh, aku tidak akan menikah lagi sampai Anas yang memintaku untuk menikah!”
Ummu Sulaim benar-benar totalitas dalam mendidik buah hatinya, yang merupakan amanah dari Allah untuk dijaga. Iapun tidak menyia-nyiakan amanah itu, dengan mengajarinya ketauhidan pada waktu putranya masih kecil, dan mendidiknya dengan sepenuh hati.
Ketika hal itu disampaikan pada Anas maka ia segera membalas janji ibundanya itu dengan mengatakan, “Semoga Allah membalas jasa-jasamu dengan segala kebaikan, engkau telah benar-benar dalam merawatku.”
Janji yang diucapkannya pun bukan hanya di mulut saja, tapi benar-benar ia pegang. Hingga akhirnya di saat Anas sudah beranjak dewas dan telah melewati masa persusuan, datanglah kepadanya Abu Talhah, seorang lelaki musyrik yang hendak melamarnya.
“Wahai Abu Talhah, tidakkah engkau tahu bahwa tuhan yang kamu sembah itu adalah kayu dari pepohonan di bumi?” kata Ummu Sulaim ketika menemui Abu Talhah yang datang melamarnya.
“Ya, aku tahu.” jawab Abu Talhah.
“Tidak malukah engkau menyembah pohon?!”
Abu talhah terdiam, lalu Ummu Sulaim melanjutkan lagi kata-katanya, “Kalau kamu mau masuk Islam dengan benar, maka aku tidak ingin mahar lagi selain itu darimu.”
“Biarkan aku memikirkannya.” kata Abu Talhah. Lantas ia pergi. Sesaat kemudian ia kembali menemui Ummu Sulaim dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah!”
Lalu Ummu Sulaim mendekati Anas putranya dan berkata, “Wahai Anas anakku, nikahkanlah Abu Talhah denganku.”
Tidak cukup sampai di situ saja, setelah Rasulullah Saw tiba di Madinah, Ummu Sulaim segera menemui beliau untuk menyerahkan putranya agar menjadi pelayan Rasulullah Saw sekaligus muridnya. Sehingga tidak mustahil kalau Abu Hurairah, salah seorang sahabat yang menempati posisi paling atas dalam hal meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw, itu mengatakan, “Aku belum menemukan orang yang shalatnya mirip dengan shalat Rasulullah Saw melebihi Ibnu Ummi Sulaim, yaitu Anas.” (Semua perawinya tsiqah. Kitab Siyar A’lamin Nubala’ Jilid 3, halaman 400).
Begitulah Ummu Sulaim yang totalitas dalam mentarbiyah buah hatinya, hingga akhirnya kelak tercetaklah sosok besar dari kalangan sahabat, Anas bin Malik, ahli ilmu, ahli hadits, Mufti besar. Anas adalah sahabat yang paling terakhir meninggalkan dunia dari sahabat-sahabat Rasulullah lainnya.
Pendidikan dalam keluarga yang mendukung ditambah dengan pendidikan di Madrasah Nabawiyah telah membentuk orang besar seperti Anas bin Malik, yang namanya hingga hari ini masih dikenal banyak orang.

http://cahayasiroh.com/



Lemah lembutlah pada gelas-gelas kaca itu…!

Dalam sebuah perjalanan. Ketika itu Rasulullah Saw bersama seorang budak yang biasa dipanggil dengan nama Anjasah. Suara Anjasah yang demikian besar membuat unta yang sedang dituntunnya menjingkrak-jingkrak. Setiap kali Anjasah berkata dengan suara tinggi, maka unta itu bergerak tanpa kontrol karena terkejut. Hal itu membuat para wanita yang sedang berada diatas punggung unta hampir-hampir saja terjatuh.

Melihat yang demikian itu, saking perhatiannya kepada para wanita, Rasulullah Saw segera menegur Anjasah, kemudian memintanya untuk melirihkan suaranya. “Perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut, hai Anjasah!!” kata beliau mengingatkan. Dan maksud dari gelas-gelas kaca itu adalah para wanita.

Ungkapan yang begitu indah. Mengagumkan. Sungguh bahasa yang beliau pilih untuk mengilustrasikan karakteristik kaum wanita adalah sangat tepat. Mereka memiliki kelembutan rasa. Selembut belaian angin sepoi-sepoi, bahkan lebih lembut lagi. Mereka mempunyai kehalusan jiwa, sehalus sutera China, bahkan lebih. Hal inilah yang mendorong Rasulullah Saw begitu nyaman menyebut kaum wanita dengan istilah ‘gelas-gelas kaca’.

Gelas-gelas kaca itu bening. Sebening embun, bahkan lebih bening. Gelas-gelas kaca itu bersih. Sebersih semburat surya di waktu dhuha, bahkan lebih bersih lagi. Selalu menyenangkan hati orang yang menatapnya. Karena memang naluriah manusia cenderung mencintai keindahan. Dan gelas-gelas kaca itu punya tabiat dasar bersih serta indah. Berarti ini sangat tepat.

Wanita memiliki kelembutan jiwa, kepekaan hati serta sensitivitas rasa. Namun tabiatnya yang indah suatu saat bisa saja ternoda manakala ia keluar ataupun ‘dipaksa’ keluar dari rel fitrahnya. Demikian halnya dengan gelas-gelas kaca itu, ia bisa saja pecah ketika terjatuh atau dijatuhkan. Ia juga bisa kotor karena debu-debu nakal yang menempel padanya. Oleh karena itulah Rasulullah Saw begitu hati-hati dalam menyebutnya, apalagi bermuamalah dengannya.

Rifqon bil Qowārir…!!!

  • Kalimat itu adalah seruan bagi kaum laki-laki untuk bersikap santun dan lemah lembut pada wanita.
  • Ia adalah peringatan bagi orang tua agar betul-betul mendidik dan membimbing putrinya agar tidak rusak ataupun retak. Rusak akhlaknya, retak kemuliaannya.
  • Ia adalah teguran bagi orang tua maupun para suami yang telah melalaikannya, tidak mendidiknya dengan pendidikan yang utama, tidak menjaganya dengan baik dan tidak mengajarinya akhlak atau pekerti yang luhur.
  • ia merupakan larangan bagi siapapun yang hendak menjerumuskannya ke dalam gelombang fitnah, dan juga peringatan keras atas orang-orang yang hendak menanggalkan ‘izzah-nya.**


Perjalanan Ini …

Dakwah dan aktivis dakwah??

Jujur pertama ku mendengar kata-kata itu terasa sangatlah berat. Tak tau pasti berapa kilogram  atau bahkan ton satuan berat itu, yang pasti sangat penuh sesak di dada ini. Karena janganlah sampai mengotori amal dakwah yang suci ini dengan kotornya kemaksiatan. Janganlah sampai menyepelekan kemaksiatan, kemaksiatan yang kecil jika ditolerir akan menghasilkan kemaksiatan yang besar. Orang yang mengemban risalah Islam harus lebih bertakwa kepada Allah, menjauhkan diri dari dosa-dosa kecil, syubhat dan dosa-dosa besar. Itulah hal yang telah terafirmasi di dalam otak ku.

Setelah beberapa lama ku fikirkan tentang hal sebab musababnya ternyata disitulah letak titik pangkal kemana kaki harus melangkah. Yaitu harus ditujukan untuk kehidupan selanjutnya, yang kekal abadi. Tempat yang telah dijanjikan oleh-Nya, taman surgawi. Indah taman dicipta dalam nuansa yanga tak kasat mata, indah taman yg dimimpi.

Ya. Itulah tujuan utama yang telah dirindukan. Namun apakah mudah jalan untuk menuju kesana. Apakah ada hambatan dan rintangan melewati jalan yang penuh onak dan duri itu?? Jawabannya, pastilah ada. Namun segala macam hambatan, rintangan, dan godaan takkan menggoyahkan langkah untuk menggapai itu semua. Menggapai ridlo Illahi. Jika diibaratkan, diujung tombak itu tersimpan cita-cita titian taman surgawi. Syahid kita tertinggi tersemat di dalam hati para mujahid muda nan setia.

Mulai dari pakaian, disana aku mencoba untuk tampil syar’I sesuai tuntutan agama. Namun apa yang terjadi, tak sedikit celaan dan cemooh dari orang yang tak faham apa maksudnya. Apapun yang terjadi aku tetap teguh dengan pendirianku, dan aku bertindak positif saja agar semoga orang yang tidak  faham itu segera diampuni dan diberi hidayah olehNya.

Tak sedikit pula teman-temanku bertanya apakah aku bisa membagi waktu dengan sibuknya sebagai aktivis? Dengan pertanyaan seperti itu, maka lebih tertantang olehku untuk lebih berusaha keras agar minimal tak terkalahkan oleh mereka yang tidak berorganisasi.

Tak ada yang bisa menghalangi datangnya hidayah bila ia telah tiba. Mungkin itu adalah pernyataan jika seseorang telah berani menapakkan kakinya di jalan dakwah. InsyaAllah. Apapun bentuknya, sekecil apapun ukurannya, asalkan dengan niat yang ikhlas semata-mata dipersembahkan untuk agama yang lurus ini. Karena sesungguhnya tak ada satupun yang luput dari penglihatan-Nya, dari pengawasan-NYa.

Salah satu tempat yang menjadi pilihanku untuk ikut berjihad yaitu Alghifari masjid yang selalu dihati. Meskipun tidak turun langsung ke medan perang seperti yang dilakukan saudara-saudara kita yang ada di Palestina melawan Yahudi laknatullah. Terdapat DKM Al-Ghifari disana, yaitu salah satu wajihah yang aku ikuti untuk turut menegakkan Daulah Islamiyah. Karena salah satu kelebihan wajihah yaitu kita bisa melakukan amal jama’i. Lalu mengapa penting amal jama’I itu? Pasti sudah tahu kan apa jawabannnya? Ya, karena Islam bukanlah agama individu. Ia adalah agama satu umat, satu tanah air dan satu tubuh, dan Islam menyeru kepada kesatuan kaum Muslimin.

Sebelum masuk ke inti, saya akan mengucapkan banyak terima kasih kepada almamater kita tercinta IPB. Yang telah berjasa menghantarkan saya ke pintu dakwah yang sarat akan nikmat. Termasuk nikmat bertemu sahabat-sahabat yang shaleh/shaleha yang senantiasa mengingatkan dan memberi nasihat, yang selalu ada setiap suka dan duka, dan yang semangatnya tak pernah pudar di jalan dakwah ini. Istilah tarbiyah pun tak lepas dari peran dakwah ini, dengan tarbiyah ku bisa selalu mengontrol iman yang tak kupungkiri kadang naik dan kadang turun. Beruntunglah dengan adanya sosok murabbi yang setia membina dan menyayangiku, dan sekali lagi karena saudari-saudariku khusunya QIRANY yang setia bersama dikala suka maupun duka.

Organisasi pertama yang berbasiskan Islam yang pernah ku ikuti. Ya,, di dalam organisasi DKM Al-Ghifari aku ditempatkan di Departemen Ekonomi. Di tahun pertama, sebagai staff aku banyak belajar. Di tahun kedua sebagai korwat (koordinator akhwat) aku makin banyak belajar. Belajar akan banyak hal. Mulai dari manajemen diri tentang waktu, tenaga, bahkan uang saku yang di kantong. Hingga manajemen dengan lingkungan sekitar. Bagaimana aku harus bisa menempatkan diri sebagai korwat yang notabene sebagai qiyadah untuk para akhwat di dalam satu departemen. Disini aku banyak mengambil pelajaran. Berani mengambil keputusan dan melangkah. Karena berani hidup, berarti berani menghadapi masalah. Itu adalah salah satu prinsip hidupku yang selalu menyemangatiku untuk terus bangkit. Yang memberi semangat kepadaku yang sedang berusaha menggapai sukses, karena sejatinya sukses itu banyak dimensinya dan tak akan pernah berhenti di suatu titik melainkan terus berkembang. Dan karena keinginan baik harus dumulai dari kekuatan jiwa.

Seiring waktu berjalan, baru kusadari bahwa ternyata begitu pentingnya peran organisasi dalam hidup, meskipun hanya dalam bagian kecil hidup kita. Sebenarnya bukan baru kali ini saja saya berkecimpung dalam organisasi. Di masa sekolah pun saya pernah bergabung dalam keorganisasian, namun beda rasanya dari yang kurasa saat sekarang. Tak bisa diungkapkan apa itu, hanya hati kecil ini yang mampu merasakannya.

***

Dipenghujung, yang kuharapkan dari perjalanan singkatku di Bogor, kota kecil ini yaitu agar aku bisa mengamalkan ilmu yang pernah ku dapat. Dimanapun tempat aku dapat mengaplikasikan ilmu itu. Mungkin akan tetap di kota yang penuh kenangan ini, atau mungkin di kampung halaman tempat dimana aku dilahirkan. Menyinggung kata terakhir , sepintas terbayang wajah malaikat. Malaikat yang telah menjaga dan menyayangiku, yang selalu meneteskan air mata ketika ku pergi, dan yang ketika jemari mengusap lembut di kepalaku.

Yah… intinya dimanapun kita pergi untuk berjihad. Mintalah restu kepada ibu dan ayah, dan sesekali jenguklah ibu yang selalu merindu senyuman anak yang dibanggakannya. Terima kasih ibu, kupersembahkan tanda cinta terpatri dari lubuk hatiku yang paling dalam untukmu selalu.

Saatnya mewujudkannya menjadi amal juang yang nyata. Berjuang dan teruslah melangkah walau ujian akan menimpamu, wahai para aktivis dakwah pilihan Allah. Allahu Akbar!!



KETIKA CINTAKU TERGANTIKAN DENGAN SEBUAH KEIKHLASAN

Ikhlas memang sangat mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk dijalanin. Karena itu membutuhkan proses yang panjang sehingga bisa membimbing kita pada sebuah keikhlasan.

Ketika cinta terbentur dengan tidak adanya satu irama yang berjalan senada. Ketika rencana hanyalah tinggal sebuah rencana yang tidak terwujud. Tidak mudah untuk menerima kenyataan itu bahkan mungkin sangat sulit untuk aku terima. Hari demi hari aku lewati dengan air mata dan kesedihan. Di kesunyian dan keheningan malam aku menangis di hadapanNYA bukan untuk menyesali apa yang terjadi padaku tapi menyesal kenapa aku belum bisa menjadi hambaNYA yang ikhlas menerima kenyataan ini.

Tapi itulah hidup. Adakalanya kita harus mengalami sesuatu yang pahit. Apapun yang terjadi itulah yang terbaik buat aku meski aku harus sedih, kecewa dan merasa diperlakukan tidak adil.

Aku hanya berusaha untuk ridha dengan semua ketentuan yang telah digariskan oleh ALLAH. Menerima apapun yang terjadi bukan berarti tidak berusaha untuk meraih sesuatu yang lebih baik. Tapi berusaha untuk ikhlas dan menyerahkan semua ini kepadaNYA akan menenangkan hati yang gelisah. Karena dibalik kejadian ini pasti ada hikmahnya dan Insya ALLAH bisa membimbing aku untuk menjadi seseorang yang kuat, sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup.

Ketika kita ikhlas dan bersyukur dengan semua yang diberikan ALLAH akan memberikan ketenangan yang luar biasa di hati kita. Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan dan DIA akan memberikan jalan yang terbaik. Yakin bahwa rencana ALLAH itu lebih indah.

Buat sahabat2ku yang lagi sedih, harus tetap semangat karena ALLAH sayang kepada hambaNYA yang kuat dalam menjalani ujian dariNYA. Karena sebenarnya begitu banyak anugerah dan nikmat yang diberikan olehNYA yang harus kita syukuri. Selalu berprasangka baik kepadaNYA dan bersyukur ALLAH masih memberikan ujian kepada kita, itu berarti kita termasuk orang2 yang masih diperhatikan olehNYA ALLAH selalu memberikan sesuatu yang kita butuhkan bukan sesuatu yang kita inginkan. Karena DIA lebih tahu mana yang terbaik buat hambaNYA.

Ikhlas, sabar dan bersyukur adalah 3 kunci orang hidup. Tidak mudah bahkan mungkin sangat sulit. Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan mencoba untuk menjalaninya dalam kehidupan kita.

Terima Kasih Yaa ALLAH untuk kasih sayang, kekuatan dan semua yang sudah Engkau berikan kepadaku. Berikan petunjuk dan bimbinganMu kepadaku seperti yang telah Engkau berikan kepada hamba2Mu yang Engkau sayangi. Ijinkanlah aku untuk menghabiskan sisa umurku untuk lebih dekat dan mencintaiMu.

http://muslimgaul.do.am/blog/ketika_cintaku_tergantikan_dengan_sebuah_keikhlasan/2009-12-10-91



Perlunya Pengetahuan Hidup bagi Wanita

Saya pernah membaca kisah seorang wanita pengusaha yang memulai usahanya dari nol. Uniknya si ibu muda ini dulunya pernah mengenyam bangku kuliah sebuah universitas swasta terkenal di Jakarta. Semasa kuliah ia aktif dalam salah satu organisasi di kampusnya. Setelah menikah ia tinggalkan semua aktifitas di luar, karena sang suami yang seorang pengusaha menginginkan ia menjadi seorang ibu rumah tangga sejati yang hanya mengurusi rumah tangga dan anak-anaknya.

Kisah usaha ibu muda ini berawal dari kegagalan usaha sang suami yang berujung pada kebangkrutan. Sang suami saat itu mengalami depresi karena kegagalannya tersebut. Melihat kondisi seperti itu, wanita tegar ini langsung berinisiatif untuk menghidupkan kembali salah satu usaha milik suaminya. Saat itu yang masih mereka punyai hanya beberapa unit mesin jahit bekas usaha konveksi suaminya.

Dengan semangat ia mulai mempelajari teknik membuat pola dan menjahit hingga akhirnya ia bisa membuat sebuah blazer yang kemudian ia jajakan contoh jahitannya itu dari satu toko ke toko lain di sebuah pasar di Jakarta.

Awal usahanya ini memang berat, toko-toko yang ia datangi menolak contoh jahitannya itu. Beberapa hari kemudian akhirnya sebuah toko bersedia menjual blazernya. Dan ternyata kegigihannya membuahkan hasil; blazernya laku keras, orderan pun mengalir deras, hingga akhirnya ia bisa mempekerjakan banyak karyawan, memperbesar usahanya dan tentu saja berhasil menyelamatkan biduk rumah tangganya yang hampir karam.

***

Baru-baru ini ada kisah menarik tentang seorang ibu muda berusia 34 tahun asal Wonocolo Surabaya. Ia adalah seorang pengusaha mikro lulusan sekolah menengah atas. Pada tanggal 18 November yang lalu ia menghadiri sekaligus berbicara di Ruang Konferensi II Markas Besar PBB setelah memenangi lomba Micro Credit Award 2005 yang diselenggarakan oleh Kantor Menko Perekonomian. Ia berada di forum internasional yang dihadiri 250 delegasi negara anggota PBB itu untuk menghadiri pencanangan Tahun Kredit Mikro Internasional 2005.

Penuturan ibu muda berputra tiga orang ini tentang usaha kecilnya mengundang decak kagum siapa pun yang hadir saat itu. Ia tidak hanya telah berhasil mengembangkan usaha membuat pakaian, tas, aksesori, dan barang kerajinan dari kain atau percanya yang diawalnya pada tahun 1998 dengan hanya bermodalkan uang 500 ribu rupiah itu dengan secara profesional tapi juga ia telah berhasil membina dan memberdayakan para pekerjanya yang 80 persen adalah tuna daksa.

Atas hadiah yang diterima, ia mengatakan uang itu akan digunakan membangun paviliun guna menampung para tuna daksa dan remaja putus sekolah yang dilatih di rumahnya, karena selama ini para pekerjanya tidur di setiap celah yang ada di rumahnya.

***

Seperti kata Ibu Dewi Sartika, salah satu Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia, bahwa wanita harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Perkataannya itu keluar sebagai kesadarannya yang timbul setelah bapaknya yang seorang patih di Bandung meninggal dunia, dan kekayaan keluarganya disita oleh pemerintah Belanda. Saat itu usianya masih belasan tahun, tapi Dewi sartika dan ibunya harus berjuang untuk hidup.

Ya, wanita memang harus mempunyai pengetahuan untuk hidup. Ada kalanya kehidupan datang tidak seperti yang kita inginkan. Seperti kejadian ibu muda di atas yang tiba-tiba harus berjuang menyelamatkan rumah tangganya. Beruntung si ibu ini pernah mengenyam pengalaman berorganisasi sehingga pada dirinya sudah tertanam keterampilan interpersonal yang baik juga semangat untuk berjuang dan belajar. Bagaimana halnya jika hal ini terjadi pada wanita yang selama hidupnya serba lancar-lancar saja, maksudnya belum pernah mengalami terpaan hidup? Bisa jadi ia pun bisa menjadi penyelamat biduk rumah tangganya, tapi bukankah sesuatu yang datangnya tiba-tiba akan memberikan goncangan jiwa yang tidak bisa dianggap enteng?

Banyak para suami, karena terlalu sayang pada istri, tidak mengizinkan para istri untuk bekerja. Hal ini memang bisa dipahami karena suamilah yang bertugas mencukupi kehidupan keluarga. Tapi alangkah baiknya jika para suami pun memberikan keterampilan hidup bagi para istrinya atau memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya sehingga istrinya bisa memiliki peranan tidak hanya dalam rumah tangganya saja tapi juga peranan dalam membina lingkungan masyarakatnya seperti halnya ibu muda pengusaha mikro yang saya ceritakan di atas.

Ada juga wanita yang setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, baru bisa membantu finansial keluarga ataupun turut aktif dalam mewujudkan keshalehan sosial di lingkungannya. Selama masa-masa membesarkan anak-anaknya, dia tidak pernah berhenti belajar sehingga ketika saatnya tiba dia bisa berperan lebih.

Memang sulit bagi wanita zaman sekarang untuk berperan ganda. Di zaman yang penuh tantangan ini tidaklah mudah mendidik anak sementara dia juga harus aktif di luar rumah, seperti bekerja ataupun aktif dalam kegiatan masyarakat. Jangan-jangan sukses di luar tapi anak-anaknya mengalami degradasi moral akibat kurangnya perhatian orang tua yang sibuk bekerja. Hal ini dikembalikan kepada istri dan sang suami karena ternyata tidak sedikit keluarga yang istrinya bekerja tapi bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan berakhlak baik.

Ada baiknya kita renungkan kembali perkataan Ibu Kita Dewi Sartika juga pengalaman sebagian wanita �petarung�, seperti cerita wanita di atas, tentang pentingnya wanita memiliki keterampilan hidup sejak dini, agar di saat yang tepat mereka mampu berperan lebih dan tampil mandiri tanpa harus merepotkan orang-orang di sekitarnya di saat-saat biduk rumah tangganya berada pada kondisi gawat darurat.

http://muslimgaul.do.am/blog/perlunya_pengetahuan_hidup_bagi_wanita/2009-12-08-76



IPB Badge